Letter from Amira - Basel, Switzerland

Halo Indonesia,apa kabar? :)

Sebelumnya saya mau ngucapin Selamat Tahun Baru 2011 buat semuanya, may this year would be full of bless for all of us.

Oke, hari ini,berhubung mood saya sedang dalam posisi menyenangkan, saya rasa nggak ada salahnya menceritakan 4 bulan pertama pengalaman exchange year saya,then,here we go...

Nama lengkap saya Amira Eka Pratiwi, sering dipanngil Mira. Tapi sejak di Swiss,saya lebih suka nama saya disebut apa adanya, Amira. Di Indonesia, saya terdaftar sebagai salah satu murid SMA Presiden ( Boarding School), yang berlokasi di kawasan JABABEKA, Cikarang Baru, Bekasi. Usia saya 17 tahun, usia yang penting kata orang – orang. Begitu juga buat saya. Di usia ini, impian untuk bisa merasakan pengalaman menjadi seorang exchange student yang sudah saya impikan sejak duduk di bangku SD,terwujud.

Tanggal 19 Agustus 2010, berangkatlah saya ke Swiss, negara Coklat, Keju, Arloji, dan salah satu negara termahal di dunia.
Saat ini saya menjadi bagian dari keluarga Fallahpour – Hoffecker yang bertempat tinggal di Basel. Kalo yang hobi bola, pasti pernah denger deh soal FCB ( Football Club Basel), yang beberapa lalu memenangkan piala eropa. Basel sendiri merupakan kota multikultural di Swiss berhubung sekitar lebih dari 50% penduduknya berkebangsaan asing. Basel juga disebut – sebut sebagai Florida-nya Swiss karena cuaca di sini cenderung lebih hangat dibandingkan kota – kota lainnya di Swiss. ( Walupun, tetap, di musim dingin, suhu tertingginya tidak lebih dari 6 derajat ).

Tentang keluarga saya, Hostmother saya adalah seorang psikiater berkebangsaan Austria, dan Hostdad saya seorang dosen kimia berkebangsaan Iran. Saya memiliki hostsister berusia 19 tahun dan hostbrother berusia 17 tahun. Sayangnya, hostsister saya kuliah di luar kota dan cuma pulang saat weekend, dan hostbrother saya, di hari yang sama dengan saya, berangkat ke Hongkong juga sebagai exchange student dari program AFS ( kita sama sekali belum pernah ketemu lho! ). Jadi,selama weekdays saya benar – benar jadi anak tunggal. Keluarga ini buat saya merupakan keluarga yang astonishing. Hostsibling saya wajib berbicara dengan bahasa persia ( Iran ) dengan hostdad saya, dan selalu berbahasa Jerman dengan hostmom saya. Sedangkan, karena sejak TK kedua hostsibling saya disekolahkan di sekolah berbahasa Perancis, mereka selalu bicara dengan bahasa Perancis satu sama lain. Luar biasa,bukan? Untungnya saya cuma diwajibkan untuk belajar bahasa Jerman,pfiuuuuh....
Mereka juga luar biasa baik sama saya, mereka selalu membantu saya dalam segala hal, termasuk saat saya menjalani puasa. Yang membuat saya terharu adalah cara mereka memperkenalkan saya dengan orang lain : '' Die ist unsere neue tochter,'' ( ini putri kami yang baru ), atau '' Sie ist Amira, unsere zweite tochter, '' (ini Amira,putri kedua kami ),yang tentu saja,akan membuat orang yang mendengarnya terkaget – kaget, berhubung secara tampang kita seperti kopi dan susu, haha.Tapi, buat mereka,saya sudah jadi bagian dari keluarga.


Sejak hari kedua saya di Swiss, mereka selalu berbicara dalam bahasa Jerman dengan saya ( Ini serius loh, full Jerman! ) meskipun mereka tahu saya nggak ngerti,hehe. Bukan karena mereka nggak bisa bahasa inggris, justru bahasa Inggris mereka bagus banget. Tapi, itu metode mereka supaya saya cepat lancar berbahasa Jerman. Walhasil, Alhamdulillah dalam kursus bahasa Jerman ( Di Swiss seluruh siswa AFS diwajibkan menempuh 1 bulan kursus bahasa Jerman ) saya mendapatkan nilai ujian terbaik dari sekitar 13 siswa AFS dari berbagai negara lainnya. Thanks to my family :)

Kehidupan sekolah saya juga cukup menarik. Sampai saat ini masih sulit untuk saya mengikuti pelajaran karena kendala bahasa, tapi saya selalu berusaha mengikuti setiap ujian ( walaupun tidak diwajibkan ) untuk menunjukkan kalo saya berusaha. Di sekolah, saya berkenalan dengan seorang teman yang cukup aktif dalam kegiatan kota Basel. Karena dia, saya berkesempatan untuk ikut serta dalam '' Basler Fastnacht'' yang merupakan karnaval tahunan yang sangat penting bagi warga basel dan dikenal di seluruh swiss. Bahkan pada hari karnaval ini, seluruh kegiatan kota basel diliburkan! Saya bersyukur sekali bisa jadi bagian penting dari kota ini.

Satu pengalaman lagi yang tak terlupakan untuk saya, pernah pada suatu kesempatan saya menunjukkan tari tradisional di hadapan puluhan anggota fastnacht lainnya yang terdiri dari anak – anak sampai kakek - nenek. Well, sebenarnya saya sama sekali nggak bisa nari, tapi berhubung kesempatan untuk menunjukkan kebudayaan indonesia adalah sesuatu yang langka,jadi saya cuek aja deh,hehe. Saat itu saya mendapatkan tepuk tangan yang sewajarnya, bukan sesuatu yang luar biasa. Saya pikir,tarian saya pasti tidak menarik untuk mereka. Wah, yang nggak disangka – sangka, setelah saya turun panggung, setoiap orang yang berada di dekat saya dan melihat saya akan menghampiri cuma untuk bilang '' das war sehr schön,super! '', wah,jadi berasa seleb nih,hehe.


Oke, selama 4 bulan ini bisa dipastikan saya hidup bahagia, makmur, terjamin. Kesempatan ini merupakan hal yang precious buat saya. Semoga 7 bulan ke depan akan semakin dan semakin baik lagi nuat saya. Untuk adik – adik yang juga sedang berusaha untuk menggapai impian ini, saya tahu kalian pasti repot banget, tapi jangan pernah mengeluh dan menyerah, ksrena apa yang akan kalian dapatkan will be more than just worth it!

Liebe Grüsse von der Schweiz,


Amira Eka Pratiwi.


You may also like

3 komentar:

  1. keren,, syang saya gagal, tp its okay, i still have many choise...
    cause i believe, even not from this program, i can step on my feet to the foreign land.....
    oy kalo ada yang salah di benerin yah,, hehehe...

    BalasHapus
  2. aku mo nyoba ahh ..
    pasti sangat menarik ..:)

    BalasHapus
  3. Anonim1/31/2012

    Tgl 5-08 Maret insya alloh sy liput Geneva Motor Show 2012. Deket ke Geneva?

    didin
    dsutandi@yahoo.com

    BalasHapus